You are (never walk) Alone

Judul diatas pasti familiar banget sama pecinta sepak bola, apalagi liga inggris. Big Reds punya slogan yang bikin gue semangat, tapi juga mikir. Ada kontradiksi yang gue dapet dari slogan itu. “Kamu tak akan berjalan sendirian”. Kalimat motivasi yang membangkitkan semangat ditengah kekhawatiran, ditengah kegelisahan, ditengah murungnya seseorang yang merasa sendirian. Memacu bergerak bersama, ditemani ataupun menemani.

Di negeri dimana burung bernyanyi, bersatu dalam kebersamaan diutamakan. Berpadu dalam perbedaan diindahkan. Menuju harmoni menumpas ironi. Hasil usaha bersama dinikmati tanpa harus setara. Tegas dan pedas memacu menembus batas. Hari-harinya disinari mentari.

Menuju tujuan yang diangankan bersama, namun hakikatnya hanya ada dia. Dia yang meraba. Dia yang mencoba. Dia yang merasa.

Hidup ini sesungguhnya kau sendiri yang membawa. Makhluk lain hanya menghiasi dan menemani. Kau yang menentukan dan kau yang ditentukan. Jangan lupa ada Tuhan yang campur tangan

You are alone, but You are never walk alone.

Maaf, saya cuma manusia

Maaf Saya cuma manusia

yang punya asa dan cita-cita

yang masih belajar hingga terkapar

yang keras kepala namun tetap mencoba

 

Maaf Saya cuma manusia

yang bisa sehat, berupaya semangat

yang bisa lelah dan terkapah

yang bisa sakit hingga menjerit

 

Maaf Saya cuma manusia

yang tidak rela jika dipaksa-paksa.

yang bisa bingung ketika dilepas secara tidak jelas.

yang hanya bisa berdoa setelah berusaha

 

Maaf Saya cuma manusia

yang bisa bersedih dan tertatih

yang bisa bersuka ria dan juga marah

yang bisa melontarkan bangga dan bisa kecewa

yang bisa membenci dan mencintai

 

Maaf Saya cuma manusia

yang butuh teman tak perlu lawan

yang ingin bersua dengan keluarga

yang punya kelebihan dan banyak kekurangan

 

Maaf Saya cuma manusia.

Saya lahir ke dunia ini untuk apa?

Zingiber officinale

Dipagi itu perut yang lapar mulai berkeroncong ria.

Menunggu makanan yang tak kunjung datang.

Menunggu shift yang akan usai.

Perlahan-lahan mencuri pandangan, kepada orang yang sedang makan.

Selang lima menit kemudian makananpun datang.

Bersama-sama kami makan.

Ada tiga orang ditambah satu datang.

Menikmati olahan tim juru masak.

 

Tak lama berselang seseorang datang.

Membawa segelas minuman hangat meskipun hanya seperempat.

“Ini ada minuman nih”

Setelah makan usai, Ku teguk 1x dan merasakan hangatnya minuman itu.

Kutawarkan hangatnya minuman itu ke teman-temanku, dan mereka menolaknya.

Ku letakan gelas hangat itu disampingku agar bisa kuhabiskan nanti.

Ku cuci nampan setelah kami makan, ku letakan secara bertumpukan.

Ku kembali untuk menghabiskan hangatnya minuman itu.

 

Kenapa hilang? Kenapa hilang? Padahal kuletakan hanya sebentar.

Isengnya minumanmu itu bermanfaat bagiku.

Meresapi hangatnya cairan itu di dada.

Meski cuma sedikit tegukan, tapi sangat berkesan.

Sejujurnya itu adalah salah satu minuman kesukaanku tapi sudah lama tak berjumpa.

Terima Kasih, Terima Kasih minumannya, Terima Kasih memorinya.

 

Waktu

Jam terus berputar, matahari dan bulan silih berganti shift.

Sudah Tigapuluh hari lebih berlalu terasa 3 hari terpacu.

Kelopak mata ini menahan rasa kantuk yang mengamuk.

langkah kaki ini melaju terserah tak terarah yang terarah.

 

Menuju tak terbatas dan melampauinya?

hah? yang benar saja!

Rencana bencanamu saja tak berupa!

Bagaimana kabar sejuta impianmu yang entah ke mana!

 

Sementara kau mampu

Teruslah memacu tenagamu

Otakmu itu tak usah malu-malu

Bergerak menuju hal baru

Melanjutkan azammu

 

Waktu yang berjalan bukanlah halangan

Melanjutkan segala jalan yang kau siapkan

Tatap kedepan lakukan dorongan

Segala yang sesat coba kau relakan

The randomicity of feel

Xtwty yjrgfpfs hfmfdf mfwn nyz gjsfw-gjsfw rjsdnqfzpfs ufsifslfs. Rjsizslsdf mfwn nyz xzsllzm rjsjizmpfs infsyfwf ufsfxsdf ofqfsfs Ngzptyf. Zsgjqnjafgqj, ts ymtxj ifd n lty xtrj jcfr kwtr xtrjymnsl “bmt lznij zx yt ymj wnlmy ufym”. Xzsllzm xfdfsl gjwngz xfdfsl. Sfrufpsdf zonfs nyz yjwpfqfmpfs tqjm xzfyz mfq fgxywfp, dfsl xzsllzm-xzsllzm fgxywfp.

Mn, ymjwj! Bmfy’x zu? N mtuj dtz’wj ns ajwd bjqq htsinyntsx, fx bjqq fx ymj ifd bmbj lfymjwnsl 2017 flt.

Mjd.. N pstb ymfy N fr sty ltti fy lzjxxnsl fgtzy ujtuqj kjjqx. Djx, rfdgj Dtz hfs ozilj rj, N’r fs zsxzxhjuyngqj ujwxts. N’r sty ltti fy htrrzsnhfynts bnym ujtuqj gjhfzxj n’r ytt ktwrfqqd ujwxts, ytt xjwntzx bmjs xtrjgtid yfqp bnym rj. Xzwj, N bnqq firny ymfy. Gzy, n mfaj xtrj wjfxts bmd n it ymfy. Fhyzfqqd, n bfsy yt wjrtaj ymfy ymnslx ns rd qnkj, ns rd ujwxtsfqnyd, ns rd hmfwfhyjw, n wjfqqd sjji ujtuqj mjqux fsi xzuutwyx yt wjrtaj ymfy ymnslx. Ozxy f htzuqj nrutwyfsy ymnslx, Mjqu fsi Xzuutwy.

Fx f rtxqjr, bj xmtzqi zsijwxyfsi nk bj sjji xtrjymnsl qnpj gtwijw, wnlmy? Qjy rj gznqi ymtxj gtwijw yt uwtyjhy xujhnfq lttix kwtr ymnjk, tw rfdgj kwtr xdfnyts bmt fqbfdx rfpj inxhywfhynts ktw zx. Xt, qnpj Iw. Dzimf Fxsfbn xfni bmjs xyzinzr ljsjwfqj “Gnfwpfs mfq dfsl xujxnfq rjsofin yjyfu xujxnfq”

Fx f xyzijsy, bj xmtzqi zsijwxyfsi ytt nk tzw sjcy ljsjwfynts sjji xujhnfq ymnslx kwtr zx, xt rfdgj bj xmtzqi gj ufynjsy yt kthzx tzw xyzid yt rfpj gjyyjw kzyzwj.

Tpfd. Rfdgj ymnx jstzlm ktw rj, fqymtzlm n mfaj fstymjw ymtzlmy fgtzy ymnx.

Yjwfpmnw. Ktw hqtxnsl xyfyjrjsy, N ymnsp N bnqq ljy xt rzhm tuutsjsyx yt ” xnqjsy knlmy” ytljymjw, mjmj..