In Search of Enlightenment
Opini

Biarkan status sebuah karya pada posisinya

Yang namanya manusia pasti pernah yang namanya berkarya, mau bayi pun yang baru lahir dia sudah berkarya memberikan suara tangisan indahnya pada saat pertama kali bernafas di dunia ini. Apalagi seseorang yang sudah lebih dari 1 tahun hidup di dunia. Secara tidak sadar kita sendiri sebenarnya selalu berkarya. Ketika kita sedang menggambar, maka kita sedang berkarya. Ketika kita sedang bernyanyi, maka kita sedang berkarya. Ketika sedang menulis, kita sedang berkarya. Ketika kita sedang mengerjakan soal-soal ulangan/sbm/latihan/dkk, maka kita sedang berkarya memecahkan soal-soal tersebut agar dapat dijawab.

Hakikatnya menurut KBBI Karya memiliki arti

karya/kar·ya/ n 1 pekerjaan; 2 hasil perbuatan; buatan; ciptaan (terutama hasil karangan): 

Saya tidak salah bukan? Karya berarti suatu hasil perbuatan, hasil ciptaan.

Suatu karya pasti punya tujuan ketika dibuat, entah itu untuk dijual, untuk hobi, untuk dibagikan secara gratis, atau bahkan dibuat karena iseng. Isengpun sebenarnya adalah tujuan yang tidak memiliki tujuan, tidak memiliki tujuan itulah tujuannya.

Namun ada satu hal sejak zaman badut dulu hingga sekarang yang masih menjadi masalah pencipta karya terutama di Indonesia. Krisis Hak Cipta dan Penghargaan. Terutama bagi karya yang memiliki status seperti seharusnya dijual namun malah dibajak, seharusnya gratis namun malah dijual. Statusnya sangat-sangat menyimpang dan pasti sangat merugikan bagi yang membuat karya tersebut.

Ketika suatu karya dibuat untuk memperoleh royalti pasti sang pembuat karya tidak ingin kalau ada yang mengambil “barang dagangannya” secara tiba-tiba dan tidak membayarnya (baca: DICURI). Pasti kalau ingin marah akan semarah-marahnya, kalo bisa mungkin gelas dibanting ke kepala yang nyuri barang dagangannya. Istilahnya “Gue udah cape buat, ngapa lo maling?”. Modelnya sama dengan tukang copas tugas alias tukang nyontek tugas yang ga kerja apa-apa cuma numpang copy #eh.

Hampir serupa dengan kasus di atas, suatu karya juga ada yang memang dibagikan secara gratis. Dan kalo gratis udah pasti seharusnya gaboleh,gausah, dan gaperlu bayar doong, karena sang pembuat karya memang membuat karya tersebut secara gratis. Tapi ada aja oknum-oknum yang memanfaatkan status kegratisan karya tersebut sebagai bahan penambah #ehm duit oknum tersebut. Yang ada apa? OKNUM YANG UNTUNG, CREATOR YANG RUGI!!

Dibuat oleh kreator sengaja gratis tanpa mengharapkan royalti, tapi malah dijual sama oknum, kalo kaya gitu ngapain kreator sejak dulu ga ngejual karyanya ngapain harus susah-susah buat untuk digratisin eh malah dijual. Sang kreator pasti ada tujuannya ngebuat gratis, tapi ada aja oknum rakus yang menduitkan hal gratis tersebut. Sama aja kaya udah maling ngejual barangnya lagi, kan kurang ajar. “Itu barang gue, kok lo jual?” Bagi yang pernah merasakan kaya begini, sakitnya tuh disini(nunjuk hati sama kepala)

Please, if you want make money from our work you can make a deal with us absolutly with appreciation! Don’t like a thief who stole people stuff and sell it. We also need a food, need a drink, need a money like you bro!.

Mungkin kalo buat orang yang belum pernah merasakan ini ataupun yang tukang maling yang ga pernah ngebuat suatu karya akan bilang

“bodo amat, kan gue yang untung ngapain gue harus pusing?”

Duh mas, mbak kita-kita ngebuat karya ga gratis kali, perlu listrik, perlu waktu, perlu otak, perlu tenaga, perlu makan, perlu minum, perlu ketahanan ngehadapin radiasi monitor, perlu batre buat mouse sama keyboard wireless, sama perlu ketahanan buat ngehadapin chat dari pacar keleeeesss(eh, gue ga punya pacar ya.. lupa..) lo kira semua itu ga butuh duit? bisa bayar pake daon? kaga lah, coba aja lu bayar listrik pake daon, sukur lo dibilang “Mas/Mbak kok bayarnya pake daon? bayar di kandang kambing aja sana”

Jadi, teruntuk para oknum pembajak konten berbayar maupun gratis, tobatlah nak. Kalian hanya menyakiti hati dan otak kami, kami juga perlu makan seperti kalian, kalau mau kita make a deal aja deh kan sama-sama untung. Tapi harus sadar juga, tergantung kita yang buat kalo kita ngebuat gratis dan kita ga mau itu dijual, ga usah maksa apalagi nekad buat jual. Karena bisa jadi si pembuat karya itu memang ingin punya tujuan tertentu kenapa karyanya harus digratiskan.

Dan pasti aja ada yang cuma ngeliat gambarnya doang tanpa baca sampe abis. Orang yang berkarya engga selalu minta untuk dibayar dengan duit kok, anggaplah itu cuma salah satu penghargaan. Setidaknya apapun karya yang dibuat, sangat harus diapresisasi mau itu bagus ataupun kurang bagus, yang pasti harus dibumbui dengan kritikan, karena orang yang berkarya perlu kritik untuk meningkatkan kualitas dari karya selanjutnya. Bukan “hinaan” yang membuat trauma bagi sang pembuat karya.
(Tulisan ini merupakan re-posting tulisan saya di hamdanfadh.blogspot.com dengan judul yang sama pada tanggal 3 Oktober 2016 )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.