Just Ayam's Journal
Opini

Sepinya ramai, ramainya sepi

Meledak-ledak rasanya ketika neurotransmitter di kepala ini ketika akan menyampaikan pesan

Pesan tak sekedar pesan, pesan yang bergejolak, bertumpuk, tebal, rumit

Rumitnya serumit getaran bumi yang tak terasa bergetar

Padahal, getaranya terjadi 23 kali sehari

 

Beruntungnya mahkluk ini, menjadi makhluk yang bebas

Bebas sebebas-bebasnya

Fitrahnya yang membebaskan apa-apa dalam dirinya

Dirinya dibekali akal, yang membawa dirinya bebas atau terbatas

 

Uniknya 4 huruf itu

Hal abstrak yang turut menentukan jalan hidup manusia

Hal abstrak yang turut menentukan majunya era

Yang bisa menentukan manusia dalam memilih ini itu

 

Lubernya pesan ini turut pula ditentukan akal

Kau, Neurotransmitter kenapa kau ikut berkujut?

Terlibat dalam ikut campur urusan akal

Biarlah dia itu, keluarkan semuanya

Apresiasiku padamu, Neuro

Tapi tapislah sedikit ketika kau sampaikan itu

 

Oh, aku lupa..

Padahal, betapa vitalnya ratio itu

Aristoteles, Plato, Avicenna, bahkan Tisna pun terkadang memakainya

Aduh, bedebah

 

Tapi, Tapi, sesungguhnya dimana letak akal itu?

Sungguh misteri, misteri yang kadang masih didebatkan

Ah.. Sudahlah,

tak penting dimana letak akal itu

Yang jelas, Apakah kau sudah pakai akalmu itu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.