In Search of Enlightenment
Opini

Setitik tumor Musiman di Ranah Akademis

Tahun-tahun politik menjelang pemilu itu sebenernya justru bosen bahas politik, udah segambreng yang bahas politik. Belum lagi para suporter-suporter dodol yang saling serang, saya (yang ngaku) swing voters jadi males kalo ada bahasan-bahasan politik, tapi ga ada bau-bau politiknya, cenderung menghilangkan esensi tujuan sebuah pembahasan(re:politik praktis).

Sebagai manusia yang juga mahasiswa, saya kira keresahan perlulah disebarkan bagai ketombe-ketombe yang berterbangan dan menempel di kemeja orang lain. Keresahan yang saya alami ini mungkin juga terjadi di beberapa kampus atau bahkan sekolah. Maklum, kampus dan sekolah juga masih melibatkan orang yang notabenenya sudah memenuhi syarat sebagai pemilih tetap, yaitu pengajar.

Sebagai orang yang memiliki peran dan “kekuasaan” yang berpengaruh di ruang lingkup akademis. Membagi ilmu itu memang penting, tapi mempengaruhi juga tak kalah penting. Sebagai titik pusat perhatian, apapun hal yang dibicarakan dapat berpengaruh terhadap penonton (re:peserta didik). Entah itu pengaruh terhadap motivasinya, pola pikirnya, moodnya, atau mungkin terhadap kantongnya #eh.

Seyogyanya belajar itu mesti nyaman, mesti rileks, dan yang pasti mesti asyik juga menyenangkan, bukan? Tapi gimana jika suasana itu harus hilang karena euforia musiman yang ada di masyarakat? Bagaimana jika sakralnya ilmu pengetahuan dicemari oleh nila yang bernama politik praktis? Tenang saja, Anda berhak berpolitik praktis karena itu bagian dari demokrasi.

Sebuah peradaban terlahir, bertahan dan hancur dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan. Apa jadinya jika proses transfer ilmu pengetahuan diobrak abrik oleh masa, diobrak abrik oleh suasana dan diobrak abrik oleh oknum-oknum mamiang yang menyusup dan getol berpolitik praktis pada saat proses transfer ilmu? Apalagi kalau jenis ilmu yang ditransfer ga ada hablum-nya sama politik atau ranah sosial humaniora.

 

Pengetahuan itu bertujuan untuk melepaskan manusia dari kesengsaraan. harapan dari pencarian pengetahuan itu demi kepentingan yang baik dan didasari motif yang arif.

Saras Dewi, 20181110 @ Pidato Kebudayan DKJ, Taman Ismail Marzuki

 

Kutipan tersebut adalah bagian pembuka dari pidato mbak Saras Dewi mengenai filsafat Nyaya dan Vaisesika. Memang bahasannya cenderung ke arah menyatu pada alam, tapi yang terpenting adalah mengenalkan kita pada “Apasih pengetahuan itu?” dari sudut pandang filsafat timur, India. Memahami esensi pengetahuan bertujuan untuk mengarah kepada harmoni kepada alam. Menjaga alam, memelihara tumbuhan, menyayangi hewan, mengasihi manusia, bahkan melestarikan air dan tanah. Intinya adalah berdamai dengan Alam.

Ketika esensi pengetahuan dirusak sedemikian rupa, entah karena euforia mencoblos 5 tahunan atau karena latah mendapat proyek, bagaimana perdamaian bisa sedemikian lancar? Tulisan ini adalah sebuah tanda bahwa Anda perlahan turut mendegradasi perdamaian karena membawa latahnya Anda ke ranah Akademis. Sungguh, kami tidak peduli apa yang Anda bicarakan mengenai latah Anda. Sesungguhnya Anda orang yang luar biasa, memiliki otoritas untuk mengalirkan ilmu pengetahuan secara resmi, tapi beberapa yang anda alirkan hanyalah sebuah omong kosong yang datang dari politisi yang mengincar kursi.

Terakhir, maaf saya cuma manusia yang resah karena ada 2 hal yang tak perlu dicampur-campur tetapi malah dicampur. Saya cuma manusia yang punya sifat oportunis demi kelangsungan hidup saya. Saya cuma manusia yang punya orang terdekat dengan keresahan yang sama pada saat musim politik. Saya cuma manusia yang punya hak berpendapat, membela, bersuara, dilindungi dan dibela. Dan saya cuma manusia yang tak suka mie sedap dicampur dengan indomie.

Sumber gambar: saya sendiri diedit dari pngtree & diabetes.co.uk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.