Published on

Nyontek adalah Budaya Kita

Authors

Pasca UAS yang enak mungkin ngobrolin hal-hal yang berkaitan sama UAS kali ya. Hal yang selalu terjadi ketika ujian/ulangan, terus berulang, turun-temurun seolah menjadi budaya yang mendarah daging di setiap sekolah. Nyontek udah bukan rahasia lagi, di seluruh sekolah pasti ada aja yang melakukan kegiatan sontek-menyontek ini. Bohong, jika satu sekolah tidak mengetahui kegiatan “Intel” ini pasti tau ataupun kalo tidak tau ya pura-pura aja ga tau.

Kalau menyontek hanya sebagai inspirasi menurut saya itu bukan masalah karena itu menjadikan sumber sebagai trigger untuk melakukan sesuatu. Di dunia pendidikan, yang namanya nyontek ini sebenernya(seharusnya?) menjadi musuh besar bersama yang seharusnya dilawan? sepakat? Walaupun menyontek dapat meningkatkan skill mata-mata juga yaitu Situational Awareness biar kaya Jason Bourne, ningkatin Kewaspadaan, Kejelian, Ketelitin, Sandi Negara yang biasanya agak beda di masing-masing negara, skill , ditambah sama skill kelincahan, dan skill lainnya.

Disini saya coba mengambil sumber berdasarkan survei yang dilakukan oleh zenius di twitter pada bulan april 2016 dan dari apa yang saya amati selama ini disetiap ujian/ulangan.

Walaupun jumlah voter-nya dikit, tapi dari 442 responden ini… setidaknya kita tahu bahwa ada 77% atau setidaknya 340 responden yang menyatakan bahwa terdapat kecurangan di sekolahnya. Ini baru dalam skala kecil iseng-isengan saja. Entah bagaimana jika sampelnya diperbanyak atau bahkan diperluas secara nasional.

Nah kan, ini survey untuk UN aja dan dapetnya 442 responden yang jumlahnya kurang lebih satu angkatan di suatu SMA, belom lagi UAS, UTS, Ulangan haria. Kalo dihitung total se-Indonesia dan diisi sebenar-benarnya pasti akan meledak jumlahnya.

Nah, karena gua makin penasaran lagi. Kemarin (14 April 2016) gua bikin survei yang sedikit mengupas tindak kecurangan pada UN SMA/SMK 2016 dengan lebih mendalam. Berikut adalah distribusi bentuk kecurangan berdasarkan responden dari sosial media @zeniuseducation:

Oke, berdasarkan polling & survei iseng-isengan zenius, boleh dibilang >75% responden menyatakan melihat kecurangan UN di lingkungannya.

Karena yang kita bahas adalah bukan hanya tentang nyontek di UN, maka kalo ada bocoran jawaban itu agak engga mungkin kali ya.. Tapi untuk siswa saling nyontek, atau lainnya kaya pake HP kalo sekarang,itu mungkin banget.

Beberapa cara yang dipakai “kadal” untuk mengadali soal:

Pakai skill intelejen. Ini cara dari tahun kapan tau udah dipake, yaa trik-triknya juga macem-macem ada yang pake surat cinta, bisik-bisik tetangga, atau cara intel pake kode-kode.

Tapi kalo ketauan ada 3 kemungkinan. Pertama, yang nyontek sama yang dicontekin kena (simbiosis mutualisme), Kedua yang nyontek doang yang kena (simbiosis komensalisme), Ketiga yang dicontekin doang yang kena (ini yang paling rugi kalo menurut saya bagaikan simbiosis parasitisme).

Ngadalin pengawas. Pengawas juga manusia boy, butuh istirahat butuh refreshing. Rela bengong selama 90 menit itu lumayan lama(sama kaya nungguin doi). Kalo dulu pas saya SD, pengawas itu dikasih makanan di meja pengawas biar ga bosen tapi yang ada abis sama anak-anak sampe ada guru yang marah (ya namanya juga anak SD siapa yang ga seneng “disediain” permen secara gratis). Berdasarkan dari yang saya perhatikan, ada 2 jenis pengawas yaitu Invigilator who cares with examinees, and Ignorant Invigilator.

The Cares Invigilator ini biasanya paling “dicintai” oleh pelaku menyontek, karena membuat suasana menyontek menjadi lebih menantang, dan memacu adrenalin. Pengawas yang peduli disini maksudnya pengawas yang matanya selalu terbuka karena begitu perhatian dan peduli dengan peserta ujian, matanya seperti CCTV yang selalu melihat siswa, kakinya yang selalu berolahraga mengelilingi ruas-ruas jalan diantara siswa. Kalau pengawas ini main hp, baca buku pun, masih tetep peduli dengan kami para peserta ujian, Situational Awareness-nya sepertinya udah expert. Luarr biasaaaah.. I love you sir, mom, miss

Yang kedua ini cuek bebek. Pengawas yang cuek ini yang paling enak kalo pas lagi ulangan terus nyontek entah main hp, baca buku,patroli pokoknya tetep asik karena cuek mau ada yang nyontek mau engga. Punya sifat yang baik banget, ingin semua siswa yang ujian dapet nilai bagus, ujian lulus semua. Jadi yang nyontek bisa dapat nilai yang WEEH meskipun yang engga nyontek nilainya biasa aja. Yang model gini paling dibenci sama siswa yang udah tobat nyontek, ga mau nyontek, atau males nyontek. Kalo udah ketemu pengawas model gini, ada yang gedeg ada yang bahagia seperti abis ditimpuk warisan.

Lainnya (Pake HP) Nah ini paling kekinian, pake hp.. Ampuh sih, perlu keahlian dalam searching, internet harus cepet, ngetik juga harus cepet. Harus punya skill penyeludupan, harus bisa juga ngadalin orang. Semua itu kalo digabungin, bisa jadi suatu hal yang luar biasa. Bisa jadi nilai yang mendarah daging. ga perlu mikir baik atau buruk pokoknya gimana biar nilainya(skor) bagus.

Hmm.. Saya jadi teringat kata bang napi dulu pas SD sering nasihatin orang-orang.

Bagi kami yang memiliki paham pokoknya harus hasil usaha sendiri, nyontek adalah kejahatan, bagi kami nyontek adalah suatu tidakan yang melanggar hak kami, bagi kami nyontek adalah jalan menuju kegagalan, bagi kami nyontek adalah tindak kriminal yang luar biasa. Kejadian kejahatan genosida sama nyontek ini ga jauh beda, membunuh harapan dan membunuh jiwa-jiwa jujur secara masal yang ada di dalam diri. Ketika ada yang nyontek pengawas cuek bebek asik main hp karena main game, akhirnya jiwa-jiwa jujur ini dikalahkan oleh lawannya itu. Kita memang ga bisa juga nyalahin anak yang nyontek, tapi perlu diluruskan sejak sd, tk, paud. Selama masih ada mindset “Score is Everything.” yang namanya nyontek bakalan terus ada, ga hilang-hilang. Selama masih ada pengawas yang cuek bebek, kegiatan sontek-menyontek akan terus berjalan, pabrik koruptor bakal terus berproduksi membuat produk koruptor yang berteknologi canggih dan mempunyai skill menakjubkan.

Ada slogan “Keberhasilan dalam ujian tergantung pada pengawasnya”. Apakah itu salah? Engga! karena memang kenyataannya itu. Jadi, ketika hari ini ada siswa ketahuan nyontek ketangkep terus nilainya nol coba cek hari kemarinnya, pengawasnya siapa? tanyain anaknya, kemaren nyontek engga? kenapa kemaren engga ketangkep? nah jadi yang kena hukuman bukan cuma yang nyontek atau yang disontek aja, tapi yang memberikan peluang kegiatan sontek-menyontek juga harusnya dicek. Gimana Indonesia mau maju kalo jujur aja engga bisa. Solusinya biar nyontek dan koruptor masa depan terus berkurang Peduli dengan apa yang dicuekin yaitu peserta ujian, karena sanksi tegas ga mempan bagi mereka yang melakukan praktek ini. Sadar buat kalian yang masih nyontek, stop nyontek sekarang juga kalau kalian ingin koruptor di bumi pertiwi ini musnah hilang dari peradaban masa depan. Hilangkan mindset buruk “Nilai (skor) adalah Segalanya”. Nilai bagus memang buat kita senang, buat kita bangga, tapi kalu tau Jujur itu lebih tinggi nilai moralnya daripada skor. Kualitas dengan Kuantitas memang beda, Jujur itu kualitas, Skor itu kuantitas. Lebih baik pentingkan kuantitas yang setara dengan kualitas, itu namanya keren. Terakhir. Kita memang ingin semua memiliki skor yang bagus, tapi jangan sampai mengorbankan sifat yang sudah terlahir bersama kita hanya untuk satu tujuan. Sayangi koruptor ketika anda sendiri masih suka nyontek, Hormati koruptor jika anda masih memuja nilai diatas jujur, Lestarikan koruptor di bumi pertiwi ini jika anda masih terus turut melestarikan budaya menyontek ini di bumi pertiwi ini. Tapi jika anda ingin koruptor itu direndahkan, koruptor itu dihinakan, dimiskinkan, dihukum mati, dimusnahkan, dilenyapkan dari muka bumi, stop prilaku curang, bohong, nyontek dari sekarang.

Referensi https://www.zenius.net/blog/11750/mencontek-nyontek-kerja-sama-bocoran-soal-jawaban