Rooftop: 4th Floor

After class finish its time and finished ashr pray, the sun is going down after light us for 12 hour. The weather is good enough, it is not burn me until sky come yellowish. I still can see everybody, doing activity that they like, me too. Swimming around my world, past and future, mare and hope with some beautiful recitation sound from the lower floor. I don’t know why this place is make me enjoyable to make a treat. That lovely place is good enough to see her waiting the ride, to discuss something extraordinary topics, or just to take a rest seeing the sky. It’s never happen again at this time. Goodbye 4th.

You are (never walk) Alone

Judul diatas pasti familiar banget sama pecinta sepak bola, apalagi liga inggris. Big Reds punya slogan yang bikin gue semangat, tapi juga mikir. Ada kontradiksi yang gue dapet dari slogan itu. “Kamu tak akan berjalan sendirian”. Kalimat motivasi yang membangkitkan semangat ditengah kekhawatiran, ditengah kegelisahan, ditengah murungnya seseorang yang merasa sendirian. Memacu bergerak bersama, ditemani ataupun menemani.

Di negeri dimana burung bernyanyi, bersatu dalam kebersamaan diutamakan. Berpadu dalam perbedaan diindahkan. Menuju harmoni menumpas ironi. Hasil usaha bersama dinikmati tanpa harus setara. Tegas dan pedas memacu menembus batas. Hari-harinya disinari mentari.

Menuju tujuan yang diangankan bersama, namun hakikatnya hanya ada dia. Dia yang meraba. Dia yang mencoba. Dia yang merasa.

Hidup ini sesungguhnya kau sendiri yang membawa. Makhluk lain hanya menghiasi dan menemani. Kau yang menentukan dan kau yang ditentukan. Jangan lupa ada Tuhan yang campur tangan

You are alone, but You are never walk alone.

Setitik tumor Musiman di Ranah Akademis

Tahun-tahun politik menjelang pemilu itu sebenernya justru bosen bahas politik, udah segambreng yang bahas politik. Belum lagi para suporter-suporter dodol yang saling serang, saya (yang ngaku) swing voters jadi males kalo ada bahasan-bahasan politik, tapi ga ada bau-bau politiknya, cenderung menghilangkan esensi tujuan sebuah pembahasan(re:politik praktis).

Sebagai manusia yang juga mahasiswa, saya kira keresahan perlulah disebarkan bagai ketombe-ketombe yang berterbangan dan menempel di kemeja orang lain. Keresahan yang saya alami ini mungkin juga terjadi di beberapa kampus atau bahkan sekolah. Maklum, kampus dan sekolah juga masih melibatkan orang yang notabenenya sudah memenuhi syarat sebagai pemilih tetap, yaitu pengajar.

Sebagai orang yang memiliki peran dan “kekuasaan” yang berpengaruh di ruang lingkup akademis. Membagi ilmu itu memang penting, tapi mempengaruhi juga tak kalah penting. Sebagai titik pusat perhatian, apapun hal yang dibicarakan dapat berpengaruh terhadap penonton (re:peserta didik). Entah itu pengaruh terhadap motivasinya, pola pikirnya, moodnya, atau mungkin terhadap kantongnya #eh.

Seyogyanya belajar itu mesti nyaman, mesti rileks, dan yang pasti mesti asyik juga menyenangkan, bukan? Tapi gimana jika suasana itu harus hilang karena euforia musiman yang ada di masyarakat? Bagaimana jika sakralnya ilmu pengetahuan dicemari oleh nila yang bernama politik praktis? Tenang saja, Anda berhak berpolitik praktis karena itu bagian dari demokrasi.

Sebuah peradaban terlahir, bertahan dan hancur dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan. Apa jadinya jika proses transfer ilmu pengetahuan diobrak abrik oleh masa, diobrak abrik oleh suasana dan diobrak abrik oleh oknum-oknum mamiang yang menyusup dan getol berpolitik praktis pada saat proses transfer ilmu? Apalagi kalau jenis ilmu yang ditransfer ga ada hablum-nya sama politik atau ranah sosial humaniora.

 

Pengetahuan itu bertujuan untuk melepaskan manusia dari kesengsaraan. harapan dari pencarian pengetahuan itu demi kepentingan yang baik dan didasari motif yang arif.

Saras Dewi, 20181110 @ Pidato Kebudayan DKJ, Taman Ismail Marzuki

 

Kutipan tersebut adalah bagian pembuka dari pidato mbak Saras Dewi mengenai filsafat Nyaya dan Vaisesika. Memang bahasannya cenderung ke arah menyatu pada alam, tapi yang terpenting adalah mengenalkan kita pada “Apasih pengetahuan itu?” dari sudut pandang filsafat timur, India. Memahami esensi pengetahuan bertujuan untuk mengarah kepada harmoni kepada alam. Menjaga alam, memelihara tumbuhan, menyayangi hewan, mengasihi manusia, bahkan melestarikan air dan tanah. Intinya adalah berdamai dengan Alam.

Ketika esensi pengetahuan dirusak sedemikian rupa, entah karena euforia mencoblos 5 tahunan atau karena latah mendapat proyek, bagaimana perdamaian bisa sedemikian lancar? Tulisan ini adalah sebuah tanda bahwa Anda perlahan turut mendegradasi perdamaian karena membawa latahnya Anda ke ranah Akademis. Sungguh, kami tidak peduli apa yang Anda bicarakan mengenai latah Anda. Sesungguhnya Anda orang yang luar biasa, memiliki otoritas untuk mengalirkan ilmu pengetahuan secara resmi, tapi beberapa yang anda alirkan hanyalah sebuah omong kosong yang datang dari politisi yang mengincar kursi.

Terakhir, maaf saya cuma manusia yang resah karena ada 2 hal yang tak perlu dicampur-campur tetapi malah dicampur. Saya cuma manusia yang punya sifat oportunis demi kelangsungan hidup saya. Saya cuma manusia yang punya orang terdekat dengan keresahan yang sama pada saat musim politik. Saya cuma manusia yang punya hak berpendapat, membela, bersuara, dilindungi dan dibela. Dan saya cuma manusia yang tak suka mie sedap dicampur dengan indomie.

Sumber gambar: saya sendiri diedit dari pngtree & diabetes.co.uk

Biarkan status sebuah karya pada posisinya

Yang namanya manusia pasti pernah yang namanya berkarya, mau bayi pun yang baru lahir dia sudah berkarya memberikan suara tangisan indahnya pada saat pertama kali bernafas di dunia ini. Apalagi seseorang yang sudah lebih dari 1 tahun hidup di dunia. Secara tidak sadar kita sendiri sebenarnya selalu berkarya. Ketika kita sedang menggambar, maka kita sedang berkarya. Ketika kita sedang bernyanyi, maka kita sedang berkarya. Ketika sedang menulis, kita sedang berkarya. Ketika kita sedang mengerjakan soal-soal ulangan/sbm/latihan/dkk, maka kita sedang berkarya memecahkan soal-soal tersebut agar dapat dijawab.

Hakikatnya menurut KBBI Karya memiliki arti

karya/kar·ya/ n 1 pekerjaan; 2 hasil perbuatan; buatan; ciptaan (terutama hasil karangan): 

Saya tidak salah bukan? Karya berarti suatu hasil perbuatan, hasil ciptaan.

Suatu karya pasti punya tujuan ketika dibuat, entah itu untuk dijual, untuk hobi, untuk dibagikan secara gratis, atau bahkan dibuat karena iseng. Isengpun sebenarnya adalah tujuan yang tidak memiliki tujuan, tidak memiliki tujuan itulah tujuannya.

Namun ada satu hal sejak zaman badut dulu hingga sekarang yang masih menjadi masalah pencipta karya terutama di Indonesia. Krisis Hak Cipta dan Penghargaan. Terutama bagi karya yang memiliki status seperti seharusnya dijual namun malah dibajak, seharusnya gratis namun malah dijual. Statusnya sangat-sangat menyimpang dan pasti sangat merugikan bagi yang membuat karya tersebut.

Ketika suatu karya dibuat untuk memperoleh royalti pasti sang pembuat karya tidak ingin kalau ada yang mengambil “barang dagangannya” secara tiba-tiba dan tidak membayarnya (baca: DICURI). Pasti kalau ingin marah akan semarah-marahnya, kalo bisa mungkin gelas dibanting ke kepala yang nyuri barang dagangannya. Istilahnya “Gue udah cape buat, ngapa lo maling?”. Modelnya sama dengan tukang copas tugas alias tukang nyontek tugas yang ga kerja apa-apa cuma numpang copy #eh.

Hampir serupa dengan kasus di atas, suatu karya juga ada yang memang dibagikan secara gratis. Dan kalo gratis udah pasti seharusnya gaboleh,gausah, dan gaperlu bayar doong, karena sang pembuat karya memang membuat karya tersebut secara gratis. Tapi ada aja oknum-oknum yang memanfaatkan status kegratisan karya tersebut sebagai bahan penambah #ehm duit oknum tersebut. Yang ada apa? OKNUM YANG UNTUNG, CREATOR YANG RUGI!!

Dibuat oleh kreator sengaja gratis tanpa mengharapkan royalti, tapi malah dijual sama oknum, kalo kaya gitu ngapain kreator sejak dulu ga ngejual karyanya ngapain harus susah-susah buat untuk digratisin eh malah dijual. Sang kreator pasti ada tujuannya ngebuat gratis, tapi ada aja oknum rakus yang menduitkan hal gratis tersebut. Sama aja kaya udah maling ngejual barangnya lagi, kan kurang ajar. “Itu barang gue, kok lo jual?” Bagi yang pernah merasakan kaya begini, sakitnya tuh disini(nunjuk hati sama kepala)

Please, if you want make money from our work you can make a deal with us absolutly with appreciation! Don’t like a thief who stole people stuff and sell it. We also need a food, need a drink, need a money like you bro!.

Mungkin kalo buat orang yang belum pernah merasakan ini ataupun yang tukang maling yang ga pernah ngebuat suatu karya akan bilang

“bodo amat, kan gue yang untung ngapain gue harus pusing?”

Duh mas, mbak kita-kita ngebuat karya ga gratis kali, perlu listrik, perlu waktu, perlu otak, perlu tenaga, perlu makan, perlu minum, perlu ketahanan ngehadapin radiasi monitor, perlu batre buat mouse sama keyboard wireless, sama perlu ketahanan buat ngehadapin chat dari pacar keleeeesss(eh, gue ga punya pacar ya.. lupa..) lo kira semua itu ga butuh duit? bisa bayar pake daon? kaga lah, coba aja lu bayar listrik pake daon, sukur lo dibilang “Mas/Mbak kok bayarnya pake daon? bayar di kandang kambing aja sana”

Jadi, teruntuk para oknum pembajak konten berbayar maupun gratis, tobatlah nak. Kalian hanya menyakiti hati dan otak kami, kami juga perlu makan seperti kalian, kalau mau kita make a deal aja deh kan sama-sama untung. Tapi harus sadar juga, tergantung kita yang buat kalo kita ngebuat gratis dan kita ga mau itu dijual, ga usah maksa apalagi nekad buat jual. Karena bisa jadi si pembuat karya itu memang ingin punya tujuan tertentu kenapa karyanya harus digratiskan.

Dan pasti aja ada yang cuma ngeliat gambarnya doang tanpa baca sampe abis. Orang yang berkarya engga selalu minta untuk dibayar dengan duit kok, anggaplah itu cuma salah satu penghargaan. Setidaknya apapun karya yang dibuat, sangat harus diapresisasi mau itu bagus ataupun kurang bagus, yang pasti harus dibumbui dengan kritikan, karena orang yang berkarya perlu kritik untuk meningkatkan kualitas dari karya selanjutnya. Bukan “hinaan” yang membuat trauma bagi sang pembuat karya.
(Tulisan ini merupakan re-posting tulisan saya di hamdanfadh.blogspot.com dengan judul yang sama pada tanggal 3 Oktober 2016 )

Maaf, saya cuma manusia

Maaf Saya cuma manusia

yang punya asa dan cita-cita

yang masih belajar hingga terkapar

yang keras kepala namun tetap mencoba

 

Maaf Saya cuma manusia

yang bisa sehat, berupaya semangat

yang bisa lelah dan terkapah

yang bisa sakit hingga menjerit

 

Maaf Saya cuma manusia

yang tidak rela jika dipaksa-paksa.

yang bisa bingung ketika dilepas secara tidak jelas.

yang hanya bisa berdoa setelah berusaha

 

Maaf Saya cuma manusia

yang bisa bersedih dan tertatih

yang bisa bersuka ria dan juga marah

yang bisa melontarkan bangga dan bisa kecewa

yang bisa membenci dan mencintai

 

Maaf Saya cuma manusia

yang butuh teman tak perlu lawan

yang ingin bersua dengan keluarga

yang punya kelebihan dan banyak kekurangan

 

Maaf Saya cuma manusia.

Saya lahir ke dunia ini untuk apa?

Zingiber officinale

Dipagi itu perut yang lapar mulai berkeroncong ria.

Menunggu makanan yang tak kunjung datang.

Menunggu shift yang akan usai.

Perlahan-lahan mencuri pandangan, kepada orang yang sedang makan.

Selang lima menit kemudian makananpun datang.

Bersama-sama kami makan.

Ada tiga orang ditambah satu datang.

Menikmati olahan tim juru masak.

 

Tak lama berselang seseorang datang.

Membawa segelas minuman hangat meskipun hanya seperempat.

“Ini ada minuman nih”

Setelah makan usai, Ku teguk 1x dan merasakan hangatnya minuman itu.

Kutawarkan hangatnya minuman itu ke teman-temanku, dan mereka menolaknya.

Ku letakan gelas hangat itu disampingku agar bisa kuhabiskan nanti.

Ku cuci nampan setelah kami makan, ku letakan secara bertumpukan.

Ku kembali untuk menghabiskan hangatnya minuman itu.

 

Kenapa hilang? Kenapa hilang? Padahal kuletakan hanya sebentar.

Isengnya minumanmu itu bermanfaat bagiku.

Meresapi hangatnya cairan itu di dada.

Meski cuma sedikit tegukan, tapi sangat berkesan.

Sejujurnya itu adalah salah satu minuman kesukaanku tapi sudah lama tak berjumpa.

Terima Kasih, Terima Kasih minumannya, Terima Kasih memorinya.

 

Waktu

Jam terus berputar, matahari dan bulan silih berganti shift.

Sudah Tigapuluh hari lebih berlalu terasa 3 hari terpacu.

Kelopak mata ini menahan rasa kantuk yang mengamuk.

langkah kaki ini melaju terserah tak terarah yang terarah.

 

Menuju tak terbatas dan melampauinya?

hah? yang benar saja!

Rencana bencanamu saja tak berupa!

Bagaimana kabar sejuta impianmu yang entah ke mana!

 

Sementara kau mampu

Teruslah memacu tenagamu

Otakmu itu tak usah malu-malu

Bergerak menuju hal baru

Melanjutkan azammu

 

Waktu yang berjalan bukanlah halangan

Melanjutkan segala jalan yang kau siapkan

Tatap kedepan lakukan dorongan

Segala yang sesat coba kau relakan